Apa Itu Stunting dan Apa Dampaknya Jika Anak Terkena?

UNICEF mendefinisikan stunting sebagai persentase anak-anak, usia 0 hingga 59 bulan, dengan tinggi badan per usia minus dua di bawah standar deviasi (disebut stunting moderat dan berat) dan minus tiga di bawah standar deviasi (disebut stunting kronis) yang diukur dengan menggunakan indikator pertumbuhan keluaran WHO.

Selain pertumbuhan yang terhambat, stunting juga dikaitkan dengan perkembangan otak yang kurang optimal. Dalam jangka panjang, kondisi ini mempengaruhi kemampuan mental dan kapasitas belajar anak. Hal ini disebabkan parameter perkembangan anak seperti kemampuan kognitif, bahasa dan sensorik-motorik tidak berkembang dengan baik. Jika hal tersebut terjadi, tentu anak dengan kondisi stunting memiliki  prestasi sekolah yang buruk dan dapat mempengarhui kualitas kehidupan anak di masa datang.
 

source: https://www.star2.com/wp-content/uploads/2016/07/sfit_fitpp0307_py_1-e1467473238574-770x470.jpg


Selain mempengaruhi perkembangan, stunting juga mempengaruhi kesehatan anak. Berdasarkan penelitian, kondisi stunting meningkatkan resiko terkena penyakit kronis yang berhubungan dengan nutrisi seperti diabetes, hipertensi dan obesitas di masa depan dibandingan anak yang memiliki pertumbuhan normal. 

Kapan Stunting Terjadi?

Stunting, atau kondisi gagal tumbuh akibat kurangnya gizi buruk terjadi di 1000 hari pertama kehidupan (HPK) anak. 1000 HPK anak dihitung semenjak anak berada dalam kandungan ibu (semenjak kehamilan) hingga anak berusia 2 tahun. 1000 hari pertama kehidupan anak disebut sebagai masa sensitif untuk pertumbuhan dan perkembangan anak. Terutama untuk penyerapan nutrisi dan stimulasi.

Untuk itu, Jika Moms ingin mencegah stunting sedini mungkin, lakukan pemenuhan nutrisi sejak 1000 HPK atau semenjak anak dalam kandungan. Perlu di ingat, stunting bersifat irreversible atau tidak akan bisa kembali jika sudah melewati usia 2 tahun. 

source: https://images.theconversation.com/files/88116/original/image-20150710-17456-kvig8t.jpg?ixlib=rb-1.1.0&q=45&auto=format&w=926&fit=clip
baca juga

Gejala stunting sebenarnya sudah bisa diketahui jika Moms memantau grafik tumbuh kembang anak selama masa HPK. Beberapa tanda dan gejala anak mengalami gangguan pertumbuhan adalah sebagai berikut :

  • Tinggi badan anak lebih pendek dari pada anak se usianya
  • Proporsi tubuh cenderung normal, tapi anak terlihat lebihi muda dibandingkan anak seusianya
  • Berat badan kurang, tidak naik bahkan cenderung menurun
  • Perkembangan tubuh terhambat, seperti telatnya menstruasi oertama pada anak perempuan
  • anak sering terkena infeksi

Supaya Moms tahu apakah pertumbuhan si kecil normal atau tidak, Moms perlu membawa si kecil untuk rutin memeriksakan indikator tumbuh kembang ke puskesmas, dokter atau posyandu terdekat. 

Apa Penyebab Terjadinya Stunting?

Badan kesehatan dunia (WHO) menyatakan bahwa 20 persen kejadian stunting terjadi sejak bayi berada dalam kandungan bahkan masa pra konsepsi. Kelangsungan hidup dan kesehatan anak tidak dapat dipisahkan dari reproduksi dan kesehatan ibu. Calon Ibu kemungkinan mengalami gizi buruk seperti anemia dan kekurangan gizi saat sebelum atau pada saat kehamilan.
 

source: https://encrypted-tbn0.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcSle-Z6aHnt-8DpI8-MqDJAUwnED-sPPzQcu76_godt_EJQs9ubUQ

Hal itu memburuk ketika bayi sudah lahir, pemenuhan ASI tidak optimal kemudian
dilanjutkan MPASI yang tidak tepat (pola makan bayi buruk) sehingga anak tidak tercukupi kebutuhan nutrisinya. Kondisi lain yang dapat menyebabkan stunting adalah saat anak berada dalam kondisi sanitasi dan kebersihan tidak memadai yang membuat anak rentan terkena penyakit seperti infeksi yang berulang. Stunting tidak serta merta dapat kita ketahui saat itu juga Moms, karena kondisi stunting sendiri berkembang dalam jangka panjang dan bersifat akumulatif dari semua penyebab di atas,