1. Masalah Pada Manajemen Laktasi

Tidak semua Moms bisa langsung menyusui bayinya dengan lancar ketika bayi lahir. Beberapa ibu mengeluhkan sedikitnya ASI yang keluar sesaat setelah melahirkan, sampai beberapa hari kemudian. Keadaan ini disebut laktasi yang tertunda. Saat kejadian seperti ini terjadi, Moms akan stress sehingga ASI tidak kunjung keluar atau terlalu sedikit.

Sebagian besar Moms kemudian memutuskan untuk menggunakan susu formula (karena bayi kuning dan sebagainya) dan berlangsung terus sampai beberapa waktu kemudian. Sebenarnya, laktasi yang tertunda bukan berarti tidak memiliki kesempatan untuk memberikan ASI. Hanya perlu usaha dan kesabaran ekstra, termasuk dengan rajin menghubungi konselor laktasi. 

Saat Moms berlanjut menggunakan susu formula karena ASI dirasa kurang mencukupi, sebenarnya hal itu justru menurunkan kuantitas ASI. Asupan ASI pada dasarnya sebanding dengan permintaan menyusu bayi. Semakin sering bayi menyusu, maka ASI akan semakin banyak keluar. 

source: http://cdn2.momjunction.com/wp-content/uploads/2014/04/Foods-To-Avoid-While-Breastfeeding1.jpg

2. Kelenjar Air Susu yang Kurang  (Insufficient Glandular Tissue/IGT)

Beberapa payudara wanita tidak berkembang secara normal (karena berbagai alasan) dan mungkin tidak cukup banyak memproduksi ASI untuk memenuhi kebutuhan bayi mereka. Kelenjar air susu yang kurang bisa menyebabkan masalah pelekatan pada bayi, karena payudara terlalu kecil atau terlalu besar.

Ada beberapa langkah yang dapat dilakukan untuk memaksimalkan produksi ASI, seperti pemompaan, obat-obatan dari dokter, atau saran dari konselor laktasi. Apabila hal ini terus berlanjut, maka mungkin perlu melengkapi asupan dengan susu formula. Tapi ingat, perlu upaya untuk terus menyusui, karena sejumlah kecil ASI akan membantu mendukung sistem kekebalan, perkembangan otak dan kebutuhan nutrisi bayi. Selain permasalahan kelenjar air susu, bentuk puting yang tidak normal juga bisa mempengaruhi produksi ASI.

source: https://encrypted-tbn0.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcSL5N6u_bTz2A3rU0JBmnmrOBkZ-m5CAMjN5fGgm8ifyPj41Ip9
baca juga

3. Tidak Menyusui Pada Malam Hari

Saat bayi tidur sepanjang malam, hal ini menjadi kelegaan tersendiri bagi para Moms karena bisa istirahat. Tapi, melewatkan makan malam bagi bayi kurang baik untuk pertambahan berat badan mereka, sekaligus bagi produksi ASI.

Memang, kondisi masing-masing ibu berbeda-beda dalam hal kuantitas susu yang mereka simpan. Tapi jika semalaman tidak dihisap oleh bayi, maka produksi ASI semakin turun. Padahal saat malam hari, tingkat prolaktin (hormon yang menandakan payudara membuat susu) juga lebih tinggi, sehingga prolaktin secara keseluruhan juga dapat menyebabkan penurunan pada susu. Memang sulit, tapi demi buah hati, segalanya akan kita usahakan.
source: http://www.parenting.co.id/img/images/xmenyusui,P20opener.jpg.pagespeed.ic.mNh5M2x7d-.jpg

4. Gangguan Hormon dan Kesehatan Ibu

Produksi ASI sangat dipengaruhi oleh hormon prolaktin yang diproduksi saat hamil dan setelah melahirkan. Jika Moms mengalami gangguan hormon dan kesehatan berikut, kemungkinan besar produksi ASI akan bermasalah:

  • Polycystic ovary syndrome (PCOS), yaitu saat indung telur memproduksi hormon laki-laki lebih banyak dari pada hormon wanita, sehingga mempengaruhi ovulasi dan produksi ASI
  • Kelenjar tiroid yang tidak normal (terlalu rendah atau terlalu tinggi)
  • Diabetes dan darah tinggi
  • Obesitas
  • Pendarahan pasca melahirkan yang menimbulkan trauma atau stres sehingga menurunkan produksi ASI
  • Pernah operasi payudara sebelum kehamilan
  • Kekurangan Zat besi

 

source: https://sg.theasianparent.com/wp-content/blogs.dir/1/files/14-tips-on-how-to-increase-your-breast-milk-supply/16.jpg
baca juga

5. Pengaruh Obat Tertentu dan Penggunaan KB

Pseudoefedrin, bahan yang umum di banyak alergi dan obat flu dapat menurunkan produksi ASI. Bagi ibu hamil yang memiliki tingkat alergi yang parah, dokter mungkin akan mengatur dosis obat yang akan dikonsumsi. Sebaiknya hindari konsumsi obat-obatan tersebut sesaat setelah melahirkan sampai produksi ASI benar-benar stabil. Selain obat-obatan, penggunaan KB hormonal akan mempengarhi produksi ASI, hal ini harus dipertimbangkan baik-baik saat Moms memilih KB. 

source: https://www.infantrisk.com/sites/default/files/styles/blog_image/public/holding-pills-in-container.jpg?itok=XQ9Ut69M

6. Faktor Pada Bayi

Selain faktor internal ibu di atas, kondisi bayi juga sangat mempengaruhi produksi ASI, seperti berikut:

  • Tongue tie menyebabkan bayi kesulitan menghisap puting ibu. Meskipun bayi terlihat sedang menyusu, tapi bisa jadi, bayi yang mengalami tongue tie sebenarnya tidak menyusu sama sekali. Moms bisa memeriksa pipi bayi saat melakukan gerakan menyedot. Bayi yang kesulitan menyusu, akan mempengaruhi produksi ASI sehingga produksi ASI akan semakin sedikit karena permintaannya berkurang.
  • Pelekatan yang tidak sempurna membuat bayi tidak dapat menyusu dengan baik. Cobalah cari posisi yang paling nyaman untuk Moms dan si kecil saat proses menyusui berlangsung.
source: http://www.drdia.com/wp-content/uploads/2016/10/1468771631-klmty.jpg