Hola Mommies!

Beberapa waktu lalu saya bertemu dengan seorang teman lama di acara ulang tahun anak dari sahabat kami. Dari pertemuan yang hanya sekitar 2 jam itu, beberapa kali dia mengutarakan kekurangannya sebagai seorang ibu (dia berpikir itu kekurangan, menurut saya sih bukan).

Dimulai dengan pernyataannya "anak gue sebenernya udah bisa makan sendiri, tp gue maunya suapin aja, soalnya kalau dia makan sendiri gue ngerasa gak berguna lagi soalnya gue gak bisa apa-apa. Ini itu gak bisa". Sayapun tertawa karena cara bicaranya yang lucu. Mungkin dia lupa bahwa tindakannya itu tanda kasih sayang untuk anak. Saya membayangkan dia menyuapi anak dengan penuh cinta dan sangat menikmati karena dirasa hanya itu keahliannya.


Image source: pinterest

Lanjut lagi dia menyampaikan "gue nih gak bisa masak, jadi tiap hari anak gue makannya beli. Salah ya? Beneran deh gue gak bisa masak sama sekali". Lagi-lagi saya tertawa karena ekspresi wajahnya yang lucu. Harus diakui bahwa dengan membeli makanan, justru ibu punya banyak waktu luang untuk main bersama anak. Emosi lebih stabil karena tidak selalu terpapar panasnya kompor. Jadwal saya bebas masak itu biasanya weekend. Sedangkan weekdays saya masak. Jujur, seringkali saya kewalahan disela-sela memasak anak mengajak main dan lain-lain. Tidak jarang saya akhirnya mengucapkan "nanti dulu ya".


Image source: dreamstime.com

Lalu tidak lupa dia sampaikan mengenai pilihan sekolah untuk anaknya sejak dini. Dia pilih walaupun lokasi jauh dari rumah demi mengejar metode sekolah yang sangat bagus dan menyampaikan "gue gak kreatif bikin kegiatan-kegiatan di rumah. Gak ngerti". Lagi-lagi saya hanya tertawa. Beneran deh temen saya ini kalau ngomong lucu banget mukanya. Mungkin dia lupa untuk bisa sampai ke sekolah, dia harus berjuang melawan kemacetan setiap hari menyetir mobil sendirian. Keahlian yang belum tentu dimiliki semua ibu, contohnya saya ini tidak bisa menyetir mobil.


Image source: 123rf.com

Jadi selama sekitar 2 jam itu saya biarkan dia bercerita, saya hanya mendengarkan dan tertawa (maaf ya, lagi kelaparan saat itu jadi gak ikutan cerita-cerita hanya jadi pendengar saja haha). Ceritanya berkisar mengenai "gue mah jadi ibu gak bisa apa-apa". Nyesel sih, harusnya saya tidak hanya tertawa. Harusnya kau kujitak lalu kubilang "HEH NGOMONG APA SIH NGANA? SITU TUH GREAT MOM".

Saya perhatikan gaya bicara dengan anaknya yang lemah lembut, respon yang juga baik atas kebutuhan-kebutuhan anaknya saat itu, tidak memaksa anak ikut bergabung dengan MC dan anak lainnya karena anak sedang mengantuk, tidak memaksa anak ikut berpartisipasi karena anak sedang tidak mau, dan tidak sibuk menjelaskan kondisi anak saat itu hanya karena takut dinilai orang anaknya pasif. Terlihat sekali kelekatan yang baik antara mereka berdua. Menurut saya pribadi ini cukup menunjukkan bahwa hubungan keduanya baik-baik saja dan si ibu adalah ibu yang baik.


Image source: findingjoy.net

Dari pertemuan yang hanya sekian jam itu saya bisa melihat banyak kelebihannya. Semoga dengan tulisan ini, dia juga mulai bisa melihat kelebihan-kelebihan dirinya.

Catch up later on my next post :)