Suhu tubuh Si Kecil mendadak naik? Terasa lebih panas dari biasanya, angka pada termometer pun menunjukkan suhu di atas normal. Ketika demam melanda anak, mayoritas ibu seperti kita, pasti merasa cemas, tak jarang panik ya, Moms? Demam bisa menunjukkan gejala berbagai penyakit, sehingga tidak dapat dikategorikan sebagai sebuah penyakit tertentu.
 
Semenjak kita kecil dulu, hingga kini beranak pinak, ada beberapa pengetahuan dan penanganan demam yang masih berlaku turun-temurun. Selidik punya selidik, ternyata banyak salah kaprah yang terjadi soal demam ini.
 
Saya akan ungkapkan 7 salah kaprah demam yang masih berlaku, supaya kita sama-sama tercerahkan dan tidak panik ketika demam datang.


 

1. Obat penurun demam wajib diminum
Banyak yang tak tahu, antipiretik yang sering disebut sebagai obat demam, sebenarnya tidak murni sebagai penghilang demam. Demam sendiri sebenarnya bukanlah penyakit. Tubuh kita punya cara alami untuk melindungi diri dari serangan “benda asing”, seperti bakteri, virus, atau parasit. Caranya dengan meningkatkan suhu normal. Tujuannya, nanti sistem kekebalan tubuh membaca sinyal ini dan membasmi si tamu tak diundang itu. Nah, obat demam, bukan bekerja untuk menghancurkan si “benda asing”. Obat demam berfungsi menyamankan anak, supaya tidak merasa terlalu sakit, nyeri, dan segala hal tak enak yang melanda, akibat naiknya suhu tubuh melewati angka normal. Jadi, obat demam bukan sebuah keharusan dikonsumsi ketika kita demam.
 
2. Kompres dingin akan menurunkan demam
Kita terbiasa memahami lawan dari panas adalah dingin. Logika ini pula yang diberlakukan ketika tubuh terasa lebih panas akibat demam. Es, air dingin, bahkan alkohol, menjadi cairan pengompres. Padahal, membuat suhu tubuh dingin secara mendadak seperti ini malah membuat demam tidak membaik. Tubuh bisa menggigil, pengatur suhu tubuh pun malah “tertipu” dan membuat demam semakin tinggi suhunya. Apalagi penggunaan alkohol, yang punya risiko masuk ke dalam tubuh, punya efek samping berbahaya. Penanganan yang tepat adalah mengompres dengan air hangat (suhu 29 hingga 32 derajat Celsius). Letakkan pada lengan, kaki, dan badan bagian atas.

 
3. Dilarang mandi selama masih demam
Saran yang sering mendapat dengusan saya adalah larangan mandi ketika demam. Padahal tubuh kotor, lama-kelamaan bisa terasa gatal. Penderita demam sah-sah saja mandi atau berendam. Gunakan air hangat suam kuku (suhu 29 sampai 32 derajat Celsius) untuk menyamankannya.  Menjaga kebersihan diri tetap penting dilakukan, meskipun badan dalam kondisi tidak fit.


 

4. Antibiotik adalah obat demam terbaik
Tidak selalu penyebab demam dapat ditangani dengan antibiotik. Antibiotik hanya dibutuhkan jika memang terbukti penyebab demam kita adalah infeksi bakteri. Caranya, melalui pemeriksaan lanjutan, misalnya tes darah, air seni, atau tinja. Penggunaan antibiotik yang salah sasaran mendatangkan efek negatif. Antibiotik (apalagi yang jenis spektrum luas) bisa turut mematikan bakteri-bakteri baik yang dibutuhkan tubuh, seperti pada saluran pencernaan. Bukannya sehat, kita malah semakin rentan sakit.
 

5. Semakin tinggi demam, semakin parah penyakitnya
Kadangkala kita membuat asumsi asal seperti ini. Demam menjadi tolok ukur keparahan penyakit. Semakin tinggi kenaikan suhu tubuh, berarti penyakitnya semakin gawat. Ternyata, tidak demikian, Moms! Apabila anak masih aktif bergerak, mau makan dan minum dengan baik, warna kulit normal, dan ketika demamnya reda terlihat baik-baik saja, berarti demam anak belum sampai di tahap mengkhawatirkan.
Demam dikategorikan gawat apabila kita menunjukkan gejala lain yang bisa berakibat fatal seperti dehidrasi, sesak napas, kehilangan kesadaran, tidak reda selama lebih dari 3 hari, atau mengalami pendarahan. Jangan tunda lagi pergi ke rumah sakit atau dokter terdekat apabila gejala gawat darurat muncul kala demam melanda.

 
6. Kejang demam merusak saraf
Kejang demam sebenarnya terjadi tanpa saraf pusat yang terinfeksi. Dikutip dari situs milis sehat, kejang demam (yang terjadi kurang dari 15 menit dan tidak berulang dalam 24 jam) tidak meningkatkan risiko kematian, kelumpuhan, atau keterbelakangan mental. Selain itu, biasanya dokter tidak menerapkan pengobatan jangka panjang untuk menghindari terulangnya kejang demam, kecuali ada hasil tertentu yang jadi pertimbangan mereka pada pemeriksaan lanjutan. Obat demam pun tidak berpengaruh untuk mencegah kejang demam.



 
7. Minumlah obat demam sesuai petunjuk usia
Sebagai orang awam, kita mengikuti begitu saja dosis pemberian obat demam yang tercantum pada kemasan. Padahal sesungguhnya, obat demam harus diberikan sesuai dengan bobot badan pasien, bukan usia, untuk efektivitas kerja obat. Minta dokter atau apoteker menghitung dosis yang tepat. Lalu gunakan sendok obat atau gelas takar yang sesuai untuk memastikan ketepatan dosis.

 
Rajinlah membaca referensi terpercaya tentang kesehatan anak, termasuk serba-serbi demam. Salah satunya, pernah saya ulas dalam artikel, yaitu buku Berteman dengan Demam, karya dr. Arifianto Sp. A.
 
Orang tua adalah barisan terdepan yang akan merawat kesehatan anak. Bekali diri dan pelihara ketenangan, supaya kita bisa memberikan pertolongan pertama yang tepat sasaran ketika anak tercinta terserang demam.
 
Adakah mitos tentang demam yang pernah Moms hadapi? Coba ceritakan di kolom Komentar, ya!



pictures from : pixabay.com