Moms, sebagai orangtua tentu kita punya harapan-harapan ya terhadap buah hati. Bahkan dari sejak masih dalam kandungan sampai si kecil lahir kita sudah merencanakan nanti si kecil jadi seperti ini ya, atau jadi seperti itu, pokoknya harapan-harapan yang indah dah. Dan ini manusiawi banget kok moms.
Namun, gimana ya moms ketika harapan-harapan terhadap si kecil harus kita musnahkan begitu saja saat tenaga medis mendiangnosa si buah hati kita mengalami sebuah gangguan kejiwaan yang konon tidak bisa disembuhkan?. shock? Pasti!, Putus Asa? Tentu!, Menyangkal? Apalagi. Bahkan “mewek” berhari-hari, gak mau ketemu orang, maunya menatap si kecil terus sembari menangis dan terus flashback ke masala lalu, bertanya-tanya, kok bisa kamu seperti ini sedangkan kita tidak punya genetic dengan gangguan sepeti ini….
 
Begitulah moms, perasaan saya ketika bulan September 2017 dokter melakukan assessment ulang dengan alat assessment DSM V dan menemukan syarat-syarat yang menyatakan arkan berada dalam spectrum Autis.
 
Moms, bukan diagnose Autis yang saya sesali namun kok bisa diagnosa itu baru dikeluarkan sekarang, kenapa tidak dari dulu sejak pertama kali saya membawa arkan konsultasi. Tapi tentu dokter punya pertimbangan ya moms, tidak ada dokter atau psikolog yang baru ketemu sekali langsung bilang eh ya anak ibu autis. Itulah gunanya ada diagnosa awal, kemudian tindakan (terapi), supaya bisa menemukan sebetulnya ini anak kenapa.
Diagnosa lainnya datang dari tetangga saya sendiri yang kebetulan juga seorang psikolog yang sudah lama bergelut dengan ABK (Anak Berkebutuhan Khusus). Tidak ada assessment khusus yang dilakukan, namun karena setiap hari ketemu dan melihat segala perilaku dan kegiatan arkan sudah bisa mendiagnosa kalau arkan autis.
Jadi memang saya tidak melakukan shooping dokter atau psikolog yang kebanyakan dilakukan orang-orang, karena saya sendiri sudah punya feeling kearah ini.
Lalu apa yang saya lakukan setelah tau anak saya Autis??
Simak ditulisan selanjutnya ya moms…