Moms, setelah melakukan tes BERA dan diketahui arkan tidak bermasalah dengan pendengaran, dokter spesialis rehabilitasi medik baru bisa memberikan diagnosa bahwa arkan mengalami SID atau Sensory Integration Disorder.

Apa Itu SID?

SID Sensory Integration Disorder merupakan gangguan syaraf pusat yang tidak diketahui pasti penyebabnya. Namun dipercaya factor genetic dan lingkungan sebagai pemicu timbulnya SID. Secara awam gangguan sensor integrasi ini seperti saat kita sedang mendengarkan radio,  Apabila sedang mencari channel suatu stasiun radio tertentu, maka kita akan melewati suatu distorsi suara. Pada saat itu telinga kita akan mendengar suara tersebut, namun otak kita tidak mampu mengolah rangsang sensori. Setelah channel radio ditemukan, maka suara terdengar lebih jernih dan informasi yang disampaikan dapat diterima dengan jelas. Pada saat itu, otak kita akan mampu menerima, mengartikan dan menggunakan informasi untuk kehidupan (ayres,2005).
Namun pada anak dengan gangguan sensor integrasi, sering kali salah mengartikan informasi sensorik yang masuk. Individu ini merasa seperti dihujani dengan informasi dan tidak mampu memproses informasi yang masuk. Gangguan seonsor integrasi bisa meliputi gangguan sensor perabaan, pendengaran, penciuman, penglihtan dan pengecapan.
 
Terapi Untuk SID

Setelah diagnosa SID arkan disarankan terapi SI (sensor integrasi), dengan jadwal terapi 2 kali dalam seminggu dengan durasi 45 menit. Tapi lagi-lagi harus waitlist, arkan baru bisa mendapatkan jadwal terapi di bulan februari 2017.
 
Progress Setelah Terapi

Moms, 3 bulan terapi SI arkan tidak menunjukan progress apa-apa, malahan setiap terapi selalu menangis. Jangankan masuk ruang terapi, lihat gedung rumah sakit saja sudah heboh dan ngamuk. Sebagai mak yang berperasaan suka ikut nangis dipojokan ketika mendengar si kecil menghabiskan 45 menit untuk menangis. Mas dan mba terapis selalu menyemangati, kalau diawal terapi memang seperti itu karena memang baru penyesuaian, tapi tetap aja ya si mak mewek. Akhirnya memutuskan untuk berhenti terapi dengan alasan ingin ganti jadwal. Pihak Rumah Sakit pun menyetujui, dan akan menghubungi kalau jadwal yang diinginkan sudah ada.
Namun moms, setelah berhenti terapi bukannya keadaan arkan membaik, justru sebaliknya setiap hari arkan tantrum, muncul perilaku-perilaku baru yang membuat saya sangat kewalahan. Arkan menjadi sangat sensitive, tentu keadaan ini membuat saya stress.
Saya terus menghubungi rumah sakit dan tepat setelah lebaran saya mendapatkan kembali jadwal terapi tapi hanya 1 kali dalam seminggu. Arkan sangat menikmati waktu terapinya, tidak lagi menangis saat terapi malah sering nangis karena 45 menit bagi dia sangat kurang.
 
Moms banyak factor yang mempengaruhi anak menangis saat terapi, kalau menurut saya arkan dulu menangis karena tidak cocok dengan terapisnya, bisa jadi karena pernah ada trauma dengan terapis tersebut atau kemungkinan lainnya. Karena waktu 3 bulan menurut saya bukan waktu untuk adaptasi lagi, melainkan adanya ketidaknyaman pada anak sehingga ia tidak pernah menikmati waktu terapinya dan terus-terusan menangis. Terlebih ketika kembali terapi, suasana ruang terapi sama dengan terapis berbeda arkan sangat enjoy.