Bu'az mau curhat lagi nih. Pasti merasa sebel kesel bangetkan kalo kita selalu dibanding-bandingkan sama saudara sendiri. Jengkel yang dirasa yang tadinya laper sampe kenyang gara-gara sangking keselnya.

Bu'az pernah merasakan dibedakan perhatiannya dengan kakak yang jaraknya sembilan tahun. Dari segi perhatian & kasih sayang selalu dibeda-bedakan. Anak pertamanya selalu diperbolehkan apa yang dia mau. Dan apa yang diinginkan selalu diturutin hingga sekarang. Dua-duanya (papa dan mama) selalu bersikap manjakan anak pertamanya. Lahirlah anak keduanya dan sampai akhirnya dia mengerti ketika kakaknya minta sesuatu selalu diperbolehkan tapi ketika dia yang meminta sesuatu tidak diperbolehkan. Semenjak dari situ adiknya selalu iri dengan kakaknya.



Sampai dimana si adiknya merasa sudah dewasa dan bisa melakukan perlawanan. Akhirnya si adik melakukan perlawanan. Si adik meminta untuk dibelikan mobil saat si adik telah kuliah tapi tidak dikasih dengan berbagai alasan yang tidak jelas. Padahal sang kakak dibelikan mobil saat sang kakak SMA. Jika tidak dibelikan mobil akhirnya si adik meminta opsi kedua yaitu meminta dibelikan motor. Tapi lagi-lagi tidak diperbolehkan. Akhirnya si adik geram dengan perlakuan mama papanya. Sikap tidak adil dan dibedakan selalu ditunjukan padanya. Akhirnya si adik pergi dari rumah. Si adik kost didekat kampusnya selama 3 minggu. Sampai akhirnya sang mama menyusul ke kos adik untuk membujuk adik agar pulang. Dengan memberikan opsi "adik pulang dan kata papa akan diberikan uang saku tambahan". Setelah 3 minggu ngekost, akhirnya si adik pulang.

Si adik merasa dirinya tidak disayang seperti kakaknya yang semuanya diperbolehkan. Merasa dirinya hanyalah seperti anak pungut yang tidak merasakan seperti anak kandungnya. Perhatian yang ditunjukan oleh papa mamanya pun sangat jauh berbeda. Kepada si adik mereka cuek dan selalu bersikap keras. Si adikpun selalu berfikir "mungkin papa mama bersikap keras agar saya tidak seperti kakak saya yang selalu manja dan ngelunjak bila tak dituruti kemauannya" tapi yang tadinya si adik selalu berfikir positif lama-lama tersaingi dengan tingkah laku kakaknya yang selalu bikin onar. Kata demi kata yang dilontarkan sang kakak pun kadang membuat sang adik sangat emosi.



Sang adik pun sedang ingin menikah. Jika dibandingkan dengan persiapan sang kakak yang serba mewah dan serba mahal. Adiknya hanya mempersiapkan untuk pernikahannya dengan ekonomis dan tidak bikin malu. Yang penting bagi sang adik adalah "sah" menjadi suami istri. Sang adikpun telah mempunyai anak yang berusia 1 tahun. Tidak usai membeda-bedakan anak-anaknya sekarang cucunya dari kakak dan cucu dari sang adikpun akhirnya dibedakan. Dua orang cucu dari sang kakak pun selalu diturutin jika menginginkan sesuatu dari yang murah sampai yang mahal tapi anak dari sang adik (cucu ketiganya) hanya meminta susu yang bisa dibeli diwarung yang harganya hanya enam ribu rupiah sungguh keterlaluan tidak diberikan. Dari situ sang adik merasakan selalu dibeda-bedakan lagi.

Entah sampai kapan akan selalu dibeda-bedakan lagi. Mungkin sudah inilah takdirnya seorang adik harus selalu menerima dibanding-bandingkan terus dengan kakaknya oleh orang tuanya. Walaupun sakit hati yang dirasa sang adik dan perlakuan adik yang selalu ceplas-ceplos untuk berkomentar selalu dibandingkan dengan kakaknya kepada orang tuanya tidaklah membuat orang tuanya sadar untuk dapat bersikap adil.

Untuk para mom yang bertebaran diluar sana. Janganlah membedakan dari segi kasih sayang, perhatian dan perlakuan kepada anak mom yang lainnya. Karena dengan perlakuan dibeda-bedakan anak akan menjadi pendendam bahkan akan merasa dirinya seperti bukan anak kandung dari orang tuanya. Berusahalah untuk bersikap adil dan disamakan perlakuan kepada anak mom yang lainnya. Karena anak-anak selalu butuh kasih sayang dan perhatian agar mereka tidak merasakan dibeda-bedakan dengan saudaranya.