Salah satu hal yang saya pastikan kepada suami sebelum berangkat dan tinggal di Korea adalah adakah fasilitas kesehatan terdekat. Maklum karena tinggal di desa, saya wajib tahu fasilitas kesehatan terdekat supaya amit-amit jjka anak tiba-tiba demam tinggi di malam hari atau kita yang pingsan, bisa segera langsung dibawa ke Rumah Sakit terdekat.

Ternyata, walau namanya desa, fasilitas dasar dari sekolah, rumah sakit, kantor polisi, dan sebagainya lengkap. Ternyata juga, di Korea Selatan sendiri fasilitas kesehatan sangat banyak. Layaknya di Indonesia ada puskesmas, klinik, rumah sakit umum, rumah sakit swasta, rumah bersalin, rumah sakit khusus, dan ternyata juga banyak klinik kesehatan tradisional seperti sin she loh di sini. (ternyatanya banyak amat ya. hahaha)

Saya sendiri baru pernah mengunjungi 4 macam fasilitas kesehatan yaitu puskesmas, klinik anak (tepatnya THT), rumah sakit umum, dan sinshe. Umumnya di sini, vaksin dilakukan di puskesmas dan vaksin anak semuanya gratis kecuali PCV. Untuk dewasa, vaksin berbayar tergantung dari jenis vaksinnya. Selain puskesmas yang rutin saya kunjungi untuk vaksin anak, saya sering ke klinik THT karena anak saya sering batuk pilek dan menurut mertua, THT lebih bagus karena spesialis memeriksa ke hidung dan tenggorokan. Saya sih manut aja walau awalnya sempet syok karena biasa di Indonesia bawanya ke dokter anak. Tapi kebetulan klinik THT dekat rumah saya, selain pintar dan bagus dokternya, juga spesialis di anak-anak. Wah, makin langganan deh saya. hihihi.
                           

Sebenarnya tidak ada banyak perbedaan untuk fasilitas kesehatan. Namun yang berbeda dari masalah faskes ini adalah PELAYANANNYA. Terbiasa dengan budaya "Palli Palli" atau cepat-cepat, segala urusan di Korea Selatan memang sangat cepat pelayanannya termasuk fasilitas kesehatan ini. Jangan harap ketika kita masuk ke ruangan dokter bisa diajak berdiskusi lama-lama, ditanyain ini-itu. Kadang bahkan para suster terkesan kasar dan tidak sabar karena semua dikerjakan cepat-cepat. Sebagai contoh, saya pernah mendapatkan nomor antrian 215. Pada saat saya mendaftar, masih antrian 185an. Jadi saya kira-kira menunggu 30-an orang dan itu hanya dalam 1 jam sampai pada giliran saya. Luar biasa! :D 
Kalau di Indonesia, nunggu berapa lama ya kira-kira, Moms? hahahaa

Satu lagi hal yang membuat saya sempat terkejut adalah di Korea Selatan jika anak sakit harus segera dibawa ke rumah sakit, apapun itu sakitnya. Beda dengan Indonesia, untuk batuk pilek atau demam jika belum 3 hari disarankan tidak dibawa ke dokter karena masih bisa perawatan di rumah. Lalu, pemeriksaan di dokter juga lengkap. Anak saya pernah terkena diare dan sampai di X-ray oleh dokternya :)

                                    
                              
                                    buku vaksin, kartu bpjs, dan kartu rumah sakit