Buibuuk, di topik kali ini saya akan sharing tentang kebingungan saya harus apa dulu ini saat tahu saya hamil?

Buibuukk begitu juga ga ya? hehe

Kalau perasaan bahagia sedih haru sih ga perlu ditanya lagi yaa, sudah dijelaskan di postingan sebelumnya, disini saya hanya mau kasih tips dari pengalaman saya kemarin yang kebingungan.
Semoga info ini berguna untuk teman-teman ya.

Sebaiknya langkah awal yang diperhatikan adalah

1. Mencari dokter mana yang bagus, prefer lelaki atau perempuan?


Source: Google

Sebagian orang mungkin ada yang prefer dengan dokter cewek tentunya, mengingat ini hal yang agak bagaimana begitu yaa, tapi saya dari sebelum hamil sudah request dengan suami, nanti kalau hamil saya maunya dokter lelaki ah, (walaupun saya juga malu), tapi kebanyakan orang bilang kalau dokter lelaki itu lebih wise, lebih bisa menenangkan dan gak secuek atau sejutek dokter wanita, hahaha maaf yaa jadi mengeneralisirkan seperti ini, tapi ini pure saya alami ternyata. Suami kekeuh untuk pilih dokter wanita.

Pilih pilih dokter kandungan itu ternyata ngaruh ya sama ketenangan kita, karena apapun yang dikatakan sang dokter itu akan kita pikirkan terus lho. Apalagi kita sedang hamil bawaannya sensitif, dokter ngomong menyinggung hati sedikit langsung kepikiran, hehehe. Jadi menurut saya carilah dokter yang betul-betul sesuai dengan keinginan kalian, yang membuat nyaman, yang perhatian, bisa komunikasi kapanpun kita perlu (noted yaaa ini penting banget), pilih pakai feeling, biasanya cukup benar kok.
 
Saya hanya punya 1 dokter referensi kebetulan saudara atau keluarga dari suami, banyak yang ditangani oleh beliau, dan karena saya orang bandung, saya gak tahu disini dokter mana saja yang bagus, jadilah saya mengikuti saran saudara-saudara suami. Berhubung saat itu sudah mau masuk masa Lebaran, jadi dokter itu pun sudah cuti, tapi saya kekeuh ingin check up, jadilah mencoba memakai BPJS di puskesmas, dan untuk USG dirujuk ke RS. 
Kebetulan dapat dokter cewek, hahaha eh tapi anehnya kok suami gak boleh masuk, whuahahaha, lalu jutek, hanya jawab kalau ditanya, intinya saya ga respect lah ya, begitu keluar saya tanya pendapat suami, "Bagaimana dokter disini, ini cewek lho sesuai yang kamu request? tapi aneh ya kok suami gak bisa masuk, hahahaha tapi yang lain tadi pada masuk lho, tapi kamu gak. Terus tadi agak jutek pula."
jawaban suami , "ya sudah lah sama dokter yang lagi cuti saja nanti kita balik kesana, hahaha ayeyyyy", dan memang dokter ini sangaatttt baik, dan seperti keluarga.


2. Jarak Rumah Sakit perlu dipertimbangkan

Source: Google

Mikirnya panjang banget ya hehe, iyaa kalau kalau saya lahiran normal dan mules mules kalau RS nya jauh dan macet bisa berabe kan (pikir saya). Sayangnya saya melahirkan caesar dan dirumah sakit yang berbeda dari awal pengecekan. Next posting yaa lengkapnya.


3. Menghitung HPL


Source: Google

Mulai mengingat tanggal terakhir haid itu kapan (hari pertama/ HPHT), dan menghitung kira-kira akan lahir dibulan apa ya? 

(Hari+7), (Bulan-3), (Tahun + 1)
contoh saya :28 Mei 2016
HPL: 7 Maret 2017, tapi HPL dari dokter 4 Maret 2017 hehehe dan lahir 3 Maret 2017.

atau untuk mudahnya saya download berbagai panduan untuk menghitung HPL dan perkembangan janin. Sedikit banyaknya hanya akan maju mundur kurang lebih 2 minggu, menghitung sperti ini penting ya untuk mengetahui saja perkiraan lahirnya kapan, jadi kita pun bisa menyiapkan segala sesuatunya.

4. Mempertimbangkan hal-hal yang masih bisa dilakukan saat hamil/tidak


Source: Google

Iya ini jadi pemikiran saya terus, maklum kerjaan saya adalah tukang makeup yang selalu bawa 2 koper, 1 koper segeda gaban beratnya mungkin 5-10kg, dan 1 tas lagi sekitar 2kg. Juga menyetir mobil.
Jadi saya mulai memilah kalau sekiranya memberatkan saya, saya tidak ambil job tersebut, karena khawatir angkat beban berat saat hamil, dokter pun gak menyetujuinya. Oiya saya juga berhenti menyetir ya, sebetulnya saat hamil masih boleh menyetir sampai usia 7 bulan, tapi saya saja yang menghindarinya (request my Mom). "Kamu sudah menunggu kehamilan sejak lama, lebih baik sabar untuk tidak repot menyetir/ ambil job. Vakum lebih baik, fokus lah sama kehamilan kamu ini de." Begitulah kira-kira pemikiran mamah saya yang sangat khawatir dan takut anak dan cucunya kenapa kenapa.
Lalu saya juga memberhentikan keanggotaan saya di club fitness, hahaha daripada sayang gak kepake tapi bayar mulu yaa kan. Gagal langsing deh, secara badan melar dulu, abis lahiran pun gak bisa langsung gym lagi, kurus dengan sendirinya sambil urus anak.

5. Berhenti konsumsi obat/ suplemen/ memakai skincare/makeup yang membahayakan ibu hamil


Source: Google

Selama ini memang saya gak ada konsumsi obat rutin atau suplemen rutin, tapi terakhir sebelum saya tahu hamil, saya habis di rawat inap pasca DBD dan ada obat yang masih saya minum terkait dengan paru-paru saya. Setelah itu saya hentikan pemakaian obatnya.
Dan saya juga searching bahan apa saja yang bahaya di dalam skincare atau makeup. Mulai untuk membeli skincare yang aman.

6. Lakukan vaksin tetanus/ cek riwayat kesehatan


Source: Google

Sayangnya saya tidak melakukan cek kesehatan, padahal ini amat penting mengingat saya pernah ada CMV dan Rubella. So bagi moms yang ada riwayat lainnya tolong jangan abaikan hal ini ya.
Vaksin tetanus juga saa dapat info dari kakak ipar, ini penting karena kita tidak akan tahu akan lahiran dimana dan bisa saja terinfeksi dari tempat tersebut, so saat saya check up di puskesmas, bidanpun bertanya apa sudah pernah vaksin tetanus? Saya jawab rasanya belum. Vaksin tetanus ini biasanya dilakukan 3x selama 9 bulan. Tapi saya hanya melakukan 1x saja karena sudah terlewat hehehe.

Ok moms, kalau moms semua bagaimana ini waktu tahu pertama kali hamil? share yuk disini


Love,

Intan