Hola Mommies!

Ini memang bukan pengalaman pribadiku, namun sayangnya terjadi di beberapa lingkungan terdekatku. Ketika sepasang suami istri terpaksa berpisah dan memiliki seorang anak dengan usia yang masih kecil.


Image Source: theindependentbd.com

Bagaimana dengan anaknya nanti? Bagaimana kalau dia bertanya mengapa teman-temannya memiliki orangtua yang tinggal 1 rumah bersama tapi tidak dengan orangtuanya? Bagaimana cara menjelaskan kepada anak sekecil itu? 

Perlu diingat bahwa seorang anak memiliki hak untuk mendapatkan penjelasan, demi perkembangan emosinya. Janjikan dan BUKTIKAN walaupun orangtua berpisah, kasih sayang yang diterima anak tidak akan berkurang. Bahkan mungkin, dengan berpisah, orangtua bisa mencintai anak dengan lebih baik tanpa adanya pertengkaran di rumah. Perlu juga dijelaskan bahwa perceraian yang terjadi bukan kesalahan anak, karena ada kemungkinan anak berasumsi demikian.


Image Source: divorcemag.com

Bantu anak untuk merefleksikan perasaan-perasaannya mengenai kondisi barunya. Salah satunya seperti bertanya apakah anak merindukan ayahnya/ibunya. Dengan ini anak tahu bahwa tidak apa untuk membicarakan perasaannya. Izinkan anak untuk berduka, jangan selalu mengalihkannya.

Beberapa fenomena yang terjadi, ketika orangtua berpisah biasanya saling memperebutkan cinta anak. Secara tidak langsung, anak diminta untuk memilih. Masing-masing orangtua berlomba membahagiakan anak yang umumnya melalui materi. Memanjakan anak lebih dari seharusnya karena takut anak lebih 'memilih' mantan pasangan.
Sesungguhnya dengan mencintai anak sewajarnya sesuai dengan porsi, orangtua tidak akan kehilangan rasa cinta dari anak. Bertemu hanya beberapa kali dalam 1 bulan dengan ayah atau ibunya sudah sangat berat bagi anak. Jangan lagi anak dibebankan untuk memilih salah 1 pihak.


Image Source: shutterstock.com

Fenomena lainnya ketika anak melakukan tindakan tidak baik, lalu orangtua tidak memberikan konsekuensi yang sesuai dengan alasan "kasihan, maklumin aja orangtuanya sudah berpisah". Anak dibiarkan melakukan kesalahan, dan meminta lingkungan untuk menerimanya. Orangtua jadi lebih 'longgar' terhadap aturan, mengabaikan bahwa walaupun kondisi anak berbeda dengan anak lainnya, harus tetap dididik sesuai aturannya. Perlu diingat, sebagai orangtua harus mempersiapkan anak hidup dengan baik di lingkungan sosial demi keberhasilan masa depannya. Dengan 'memaklumi' terus menerus, maka kita tidak sedang membantu anak. Kesulitan anak beradaptasi dengan kondisi barunya perlu dibantu, agar emosi anak bisa berkembang dengan baik. Walaupun tanggung jawab kepada pasangan berhenti ketika bercerai, tapi tanggung jawab kepada anak terus berjalan. Maka diperlukan kesepakatan baru untuk mendidik anak.

Catch up later on my next post :)