Ketika pasangan memutuskan untuk saling mengerti, menjalani bahtera hidup, berbicara tentang impian-impian yang akan dicapai di masa yang akan datang di awal penyatuan dalam pernikahan.



Source: google.

Lantas, di saat hidup semakin berwarna, diwarnai tanggung jawab baru sebagai seorang ibu dan bapak, sedikit banyak mengalihkan rasa cinta tersebut pada anak-anak. Melewati hari demi hari untuk menjadi orang tua yang terbaik bagi mereka, dan terkadang komitmen terhadap anak membuat lupa bahwa seharusnya kita pun harusnya berusaha menjadi pasangan yang terbaik.



Source: google.

Tahun demi tahun, di setiap pergantian tahun pernikahan. Saya pun bertanya, "masihkah kita saling mencintai?". Sebuah pertanyaan yang menarik diri kita dan pasangan lebih dalam untuk memahami cinta di antara keduanya. Pertanyaan ini membuat kami kembali berpikir kapan pertama kali kami jatuh cinta, dan apa yang membuat kita mau bertukar hati. Tak perlu buru-buru untuk menjawab, diam dan renungkan sejenak sebelum kita berjibaku dengan urusan lain.

Oh, rasanya baru seperti kemarin kita bisa saling mencintai dengan mudah tanpa alasan. Lalu mengapa sekarang perlu merayakan cinta dengan hal yang begitu rumit? Mengapa semua komitmen yang ada membuat kita lupa tentang mencintai dan dicintai?

Kapan terakhir kali kita menjadi pendengar yang baik bagi pasangan ketika ia bercerita apapun. Berbagi kasur dan bercerita sebelum tidur. Menemaninya makan dan menonton dengan senang hati di kala malam. Menjadi supporter nomer satu untuk perjalanan karirnya. Menjadi pandangan tersejuknya kala di rumah.

Tak perlu lagi mengingat tanggal berapa, cukup bagiku kau ingat mengapa aku dan kamu pantas untuk diperjuangkan dalam suatu pernikahan. Ingatlah untuk apa aku hadir dalam duniamu.


With love,

Elvira Chaerunnisa 💞