Durasi siklus ovulasi

Rata-rata perempuan memiliki siklus antara 28 sampai dengan 32 hari, tapi beberapa perempuan mengalami siklus yang lebih panjang atau lebih pendek.
Ovulasi dapat dihitung semenjak hari pertama mentruasi periode sebelumnya (Last mentrual period atau LMP) atau dihitung mundur 12 sd 16 hari sebelum periode menstruasi berikutnya. Misalkan siklus kamu adalah 28 hari ni Moms, maka hari ke 14 kemungkinan terjadi ovulasi.
JIka siklus mentruasi kamu teratur, kamu bisa menggunakan perhitungan kalender untuk mengentahui kapan siklus terjadi. Perkirakan hari pertama kamu akan menstruasi, lalu hitung 12 hari kebelakang sebelum ovulasi dikurangi 4 hari lagi, maka selama 5 hari itulah kemungkinan ovulasi kamu terjadi. 

Siklus ovulasi ini bisa dipengaruhi oleh berbagai faktor ya Moms. Siklus kebanyakan berlangsung rutin, tetapi ada beberapa faktor yang mempengaruhi ovulasi yaitu stress, sakit atau aktifitas fisik yang berlebihan. Untuk membantu kamu memahami lebih lanjut tentang siklus ovulasi, simak fase dan tanda siklus ovulasi berikut

source: http://www.cosmopolitan.com

Fase Siklus Menstruasi

Bagian Pertama- Fase Folikular 

Fase folikular dimulai dengan produksi hormon yang akan menstimulasi folikel (FSH) dan diakhiri dengan ovulasi. Pada siklus standar 28 hari, fase ini bertahan hingga hari ke-14. Jika siklus haid Anda tidak teratur, durasi ini bisa berbeda untuk tiap individu dan juga tiap bulannya. Haid dipicu ketika hormon progesteron menurun setelah siklus ovulasi preiode sebelumnya, dan diikuti oleh luruhnya lapisan uterus.

Menurunnya progesteron memicu meningkatnya FSH. Pada saat bersamaan ovarium melepaskan hormon estrogen yang memicu penebalan lapisan uterine sebagai persiapan penanaman sel telur yang siap dibuahi.

Meningkatnya hormon estrogen mengubah cairan vagina menjadi lebih kental dan memperlancar sperma masuk ke tuba falopi. Pada hari ke 12 siklus standar, folikel akan memperlihatkan dominasinya dan folikel lain mengalami degenerasi. Fase ini berakhir ketika hormon estrogen meningkat memicu terlepasnya beberapa hormon termasuk hormon LH.

 

source: http://images.wisegeek.com/uterus-and-ovaries-drawing.jpg

Hal ini memicu terjadinya Ovulasi dan  membuat kadar hormon estrogen turun, memunculkan hormon endrogen  yang memicu peningkatan nafsu birahi perempuan. Hal ini mempertinggi peluang agar dapat hamil. Cairan serviks akan berubah menjadi basah dan licin menyerupai putih telur sesaat sebelum ovulasi terjadi sampai ovulasi selesai.

Pelepasan hormon LH memicu folikel matang melepaskan sel telur dalam waktu 12 jam. Pada saat hampir bersamaan suhu basal kamu meningkat karena pelepasan hormon progesteron.  Jika sel telur berhasil dibuahi maka ia berubah menjadi zigot. Butuh waktu beberapa hari bagi zigot ditanam di dinding rahim. Hal ini berarti kamu telah positif hamil Moms!

baca juga

Bagian kedua-Fase Luteal

Hal ini ditentukan apakah kamu hamil atau tidak. Setelah ovulasi, folikel yang melepas sel telur terus berkembang dan berubah menjadi korpus luteum. Kortus luteum memproduksi berbagai macam hormon terutama estrogen dan progesteron yang mengakibatkan turunnya LH dan FSH. Pada saat bersamaan lapisan uterus siap menerima penanaman zigot.

Jika kamu hamil, penanaman zigot akan memicu produksi hormon human chorionic gonadotropin (hCG), yang memungkinkan korpus luteum memproduksi progesteron selama beberapa minggu hingga plasenta terbentuk dan mengambil alih fungsinya. Kemudian korpus luteum akan berpindah ke permukaan ovarium.

 

source: http://www.cosmopolitan.com

Jika kamu tidak hamil, korpus luteum akan luruh karena rendahnya hormon LH dan FSH serta berhenti memproduksi hormon progesteron dan estrogen. Seiring dengan menurunnya kadar kedua hormon tersebut, siklus ovulasi mulai kembali ditandai dengan luruhnya lapisan uterus dan terpicunya pembuatan hormon FSH.