Hello, Moms! Untuk Moms yang memiliki anak usia 2-3 tahun, pasti tidak aneh ya jika mereka sudah pandai menirukan, baik menirukan ayahnya, ibunya, atau bahkan neneknya. Nah, kegiatan menirukan yang dilakukan oleh anak-anak kita adalah sesuatu hal yang sangat wajar loh, Moms. Bahkan, dari bayi pun, anak kita sudah meniru, namun semakin besar kegiatan meniru ini akan semakin meningkat seiring dengan perkembangan otaknya, Moms. Albert Bandura, Ahli Psikologi pernah menyatakan bahwa :

“Sosial Cognitive Theory examines the processes involved as people learn from observing others and gradually acquire control over their own behaviour” ( Bandura 1986, 1997 )

Pernyataan yang disampaikan oleh Albert Bandura ini berdasarkan dari eksperimen Bandura yang sangat terkenal, yaitu eksperimen Bobo Doll yang menunjukkan perilaku anak-anak pra-sekolah meniru perilaku agresif dari orang dewasa disekitarnya.

Kalau meniru adalah suatu hal yang wajar. Wajar juga gak sih, Moms kalau tiba-tiba anak meniru adegan sinetron. Oh ya, begini contohnya, jadi Bunda saya memiliki Day Care (penitipan anak) ada seorang anak yang tergolong sulit untuk diatur dan mudah marah, tiba-tiba ketika marah, dia menangis dan mengatakan seperti ini “Anda diam! Saya sedang bicara!” dengan nada membentak dan jari telunjuk terangkat. Pengasuh di Day Care tersebut kebingungan dan tidak bisa berkata apa-apa, karena dia baru menemukan anak seperti ini.


Img Source : http://3.bp.blogspot.com

Setelah kejadian tersebut, Bunda saya sebagai pemilik Day Care berbicara kepada orangtua anak tersebut, bagaimana pola asuh yang dilakukan di rumah. Hasilnya? Jangan heran, ternyata anaknya memang ikut-ikutan menonton sinetron dan orangtuanya mengakui bahwa ketika menonton, anaknya tidak di bawah pengawasan orangtua.

Jadi begitu Moms kasus yang pernah saya temukan. Anak akan menirukan apa saja yang menurut mereka layak untuk ditiru. Nah... kembali lagi, “kelayakan” yang diterjemahkan oleh anak-anak, tidak sama dengan “kelayakan” yang diterjemahkan oleh orangtua. Untuk itu, sebagai orangtua, kita wajib mendampingi dan mengawasi anak agar dapat menirukan sesuatu yang arti kelayakannya sama bagi anak maupun bagi orangtua. Namun, jika sudah terjadi, mungkin Moms bisa menjalankan tips berikut ini:

1) Ajaklah anak berkomunikasi
Percaya atau tidak, anak-anak sebenarnya senang diajak berkomunikasi 2 arah. Mengapa? Karena keingintahuan anak-anak begitu tinggi, sehingga komunikasi 2 arah merupakan hal yang sangat disukainya. Eittsss, tapi gak terus-terusan diajak ngobrol juga, cara berkomunikasi dengan anak salah satunya adalah dengan bermain. Moms bisa mencoba untuk menyelesaikan puzzle atau lego bersama-sama. Bisa juga membacakan cerita dengan boneka tangan dan lain sebagainya.

Img Source : http://www.tipsonlifeandlove.com

2) Awasi tontonan anak
Jika memang Moms tidak dapat melarang anak untuk menonton televisi, jangan lupa untuk awasi anak. Jangan sampai tontonan yang dipilih anak dapat memengaruhi anak seperti kasus di atas ya, Moms. Gak mau kan anak kita nantinya jadi Drama Queen?

Img Source : http://www.ummi-online.com/

3) Ajak anak pergi ke luar
Moms, anak-anak itu pada dasarnya suka bermain. Jangan malas-malas untuk main bersama anak ke luar rumah ya, Moms. Jangan sampe Moms gak sadar tiba-tiba anaknya udah SMP, SMA, Kuliah, nikah, aduh serem gak sih Moms bayanginnya anak kita tiba-tiba udah gede aja? Coba deh Moms lungkan waktu untuk bawa anak-anak pergi. Pasti menyenangkan!

Img Source : https://i0.wp.com

Jadi, itulah 3 tips yang dapat dilakukan oleh Moms untuk menghindari proses peniruan yang berlebihan oleh anak. Apakah Moms punya tips lain untuk kasus ini? Ditunggu Moms commentnya! :)