Sebelumnya saya pernah posting mengenai kapan saya tau kalau saya hamil. Itu rasanya seperti terima undian *padahal gak pernah terima undian , hahaa Dapet kado terbesar lah dalam hidup saya, yes i got it. Setelah saya hamil saya sudah memberitahu suami dan keluarga besar, karena moment nya pas juga saat Hari Raya Idul Fitri dimana semua berkumpul di rumah nenek.

Walaupun yang saya beritahu adalah keluarga, tapi saya menjawab hanya jika ditanya ya, kalau gak ada yang tanya ya saya pun diam. Dan semenjak itu pula gak tau kenapa saya rasanya takut berbagi kebahagiaan ini kepada banyak orang alias saya gak mau umumin dulu selain kepada keluarga.




Padahal mestinya sih kita optimis dan positif thinking yaa, karena apa yang kita pikirkan biasanya akan terjadi. Itu saya paham betul, dan saya sering bilang kepada peserta training saya dulu, seperti itu (maklum saya dulu pernah jadi trainer), jadi harus menebarkan hal-hal positif dan memotivasi.

Tapi bagi saya sendiri saat itu ya malah berpikir yang aneh-aneh takut ini dan itu, akhirnya saya keep rapet rapet. Karena takut amit-amit ada apa-apa di tengah jalan, nanti saya yang sedih, dan gak siap dengan omongan orang-orang. But itu menjadi keputusan kalian pasangan suami istri guys, yang penting dari sisi keluarga sudah tahu lebih dulu.

Kenapa keluarga harus tahu, tentu supaya mereka pun sigap terhadap kita dan aware ataupun maklum dengan perubahan sikap kita karena hormonal. Ibaratnya kita akan mendapat dukungan penuh dan menjadi saling menjaga. Barangkali kita gak boleh kecapean atau harus diawasi untuk makan yang sehat, hehe

Sebetulnya menunda atau langsung memberi tahu orang banyak itu bener-bener ada dikeputusan kalian suami istri, melihat teman-teman saya ketika Testpack langsung upload di medsos, sah-sah saja namanya juga bahagia yaa, dan kita ingin mengenang masa kebahagiaan itu, ini cuma sayanya saja yang gak siap, dan wallahualam dibawah 4 bulan kandungan masih rentan. Karena saya mendapatnya cukup lama jadi saya juga berhati-hati sekali dalam hal ini agar saya sendiri tidak sensitif nantinya. 

Jadi saya memutuskan untuk keep silent sampai pada saatnya yaitu pengajian 4 bulanan, tentu selama 4 bulan itu saya juga mendapat kabar-kabar yang membuat jantung saya berdegup.

Sang dokter sempat info, ini kok belum kelihatan yaa janinnya di minggu ke 7, biasanya sudah terlihat, sehingga saya diharuskan tes urine lagi.
Saya nangiiiss dan marah, kecewa, di depan suami saya bilang, masa aku ga hamil yang??? terus selama beberapa minggu ini saya mual dan lemes seperti orang hamil itu kenapaaa?? hasil testpack 4x pun itu apa?
Ya Allah kenapa saya diberikan harapan seperti ini kalau nyatanya saya belum hamil/gagal??
Saya berpikiran takut "hamil diluar kandungan" saat itu. Tapi saya diingatkan oleh suami gak boleh berpikiran seperti itu, harus bersyukur dll. Akhirnya hasil tes tetap positif. Sedikit lega, dokter hanya bilang untuk minum beberapa obat dan banyak banyak berdoa, saya tidak kasih penggugur (seperti kiret alami, karena takutnya hanya memang belum terlihat, bukan hamil anggur). Oh my God. Seketika kepikiran kembali rasanya ingin cepet 2 minggu kemudian, untuk di cek kembali.



Bersyukur lagi akhirnya janin pun berkembang, tidak henti saya panjatkan doa agar kami bisa selamat, sehat dan bertemu saat waktunya. 
So untuk kalian tipe yang mana? apakah langsung di share atau di keep untuk orang tertentu? yuukk share di comment. 



love,

intan