Memiliki anak adalah proses yang tidak hanya dilalui seorang Ibu, tetapi juga seorang Ayah. Sayangnya hal ini kadang masih terlupakan oleh sebagian besar diantara kita. Seringkali kita melihat pembagian tugas mengasuh anak antara Ibu dan Ayah masih sangat jauh dari ideal, karena kita masih terjebak dalam paradigma bahwa peran Ayah dalam sebuah keluarga hanyalah untuk mencari nafkah, jadi sisa urusan pengasuhan lainnya merupakan bagian tanggung jawab Ibu. Padahal peran Ibu dan Ayah sama besarnya dalam proses pengasuhan seorang anak, bahkan dewasa ini banyak studi yang menunjukan kalau Ibu dan Ayah justru punya peran masing-masing yang tidak bisa saling disubstitusi dan akan menghasilkan perkembangan anak yang optimal apabila dijalankan sesuai dengan peran Ibu dan Ayah itu sendiri.



Sebelum mengulas seperti apa peran ideal Ibu dan Ayah dalam mengasuh anak, ada baiknya kita cari tahu dulu penyebab minimnya peran seorang Ayah dalam pola pengasuhan seorang anak. Ada banyak faktor yang menyebabkan seorang Ayah tidak terlibat banyak dalam mengasuh seorang anak.



Hal yang paling umum terjadi adalah dikarenakan kurangnya rasa percaya dari sang Ibu itu sendiri. Sosok seorang Ayah yang cenderung terlihat seperti sedang bermain-main ketika mengasuh anak, sering disalahartikan para Ibu menjadi sebuah bentuk ketidakseriusan. Padahal hal ini bisa saja terjadi karena sang Ibu kurang memberi informasi tentang tata cara mengasuh anak kepada sang Ayah atau memang karakter laki-laki yang ada pada sosok setiap Ayah, membuat dia terlihat seperti sedang bermain-main padahal sebenarnya yang ia lakukan sama seriusnya dengan yang biasa Ibu lakukan. Benturan antara kurangnya informasi dan miskomunikasi ini pada akhirnya akan membuat Ayah merasa tidak dipercaya dan enggan terlibat dalam mengasuh anaknya.

Faktor kedua bisa jadi ditelusuri lebih jauh pada masa kecil yang dijalani sosok Ayah. Ada beberapa kasus yang menunjukan bahwa apabila seorang pria melewati masa kecilnya dengan sedikit terlibat dengan urusan domestik, di masa depan hal ini akan menyebabkan dia menjadi merasa kurang perlu untuk terlibat dalam turut serta di urusan domestik termasuk dalam mengasuh anak.

Faktor ketiga adalah paradigma tentang Ayah yang dimiliki dalam keluarga masih bersifat tradisional. Ayah diartikan sebagai sosok klasik yang bekerja keras mencari nafkah untuk keluarga, sampai-sampai kesibukannya membuat ia sering tidak hadir di tengah keluarga. Pola pikir seperti ini sebenarnya sudah tidak berlaku untuk mendukung tumbuh kembang anak apalagi di zaman sekarang, karena ada kebutuhan emosi anak yang harus dipenuhi oleh sosok Ayah dan tidak bisa digantikan oleh sosok Ibu. Oleh karena itu, hilangnya kehadiran sosok Ayah untuk memenuhi kebutuhan emosi tersebut bisa membuat tumbuh kembang anak menjadi tidak optimal.

Lalu seperti apa kebutuhan emosi anak yang hanya dapat dipenuhi oleh sosok seorang Ayah? Lanjut di sini yuk