Kalau biasanya para Ibu mengeluh kesulitan memberi sayuran pada menu makan anaknya, Alhamdulillah hal ini tidak berlaku bagi saya. Entah karena di pertengahan masa MPASI saya tinggal di rumah orang tua yang merupakan daerah pertanian, atau memang anak saya dikarunai lidah menyenangi sayuran. Tapi sejauh ini tak pernah ada kesulitan berarti ketika saya hendak memberi sayuran pada menu makanan anak saya.

Apabila dikilas balik ke belakang, awal masa MPASI yang saya lalui bersama anak pertama saya –Ayas- tidak jauh berbeda dengan anak-anak lainnya. Malah mungkin saya termasuk Ibu-ibu yang cenderung pemalas dalam menyiapkan menu MPASI. Selama hampir tiga bulan saya tinggal di sebuah apartemen di Surabaya yang jauh dari pasar dan tukang sayur, saya hanya mengandalkan stok sayuran mingguan untuk dibuat tambahan dalam menu MPASI Ayasha. Itupun pengolahannya hanya oseng blender-oseng blender-oseng blender dan begitu terus sampai Ayas naik tekstur.


https://c.tadst.com/gfx/750w/eat-your-vegetables-day-fun.jpg?1

Tapi selama itu sayuran berupa wortel, brokoli, labu, tomat dan seabrek bumbu-bumbu macam bawang putih, bawang merah dan daun bawang tak pernah lepas dalam setiap pemberian menu MPASI Ayas waktu itu. Selang beberapa bulan suami saya dipindah tugas ke Jakarta, hal ini membuat saya dan Ayas numpang tinggal dulu di rumah orang tua saya di sebuah desa bernama Ciwidey, sambil mempersiapkan rumah kami sendiri. Selama kami tinggal di Ciwidey, stok sayuran segar sangat mudah diperoleh mengingat orang tua saya sendiri adalah seorang petani. Ditambah dengan kemampuan masak Ibu saya yang di atas rata-rata, sejak itu Ayas bisa berhenti memakan menu MPASI sayuran oseng-blender seadanya ala buatan saya.


https://d1amk1w0mr5k0.cloudfront.net/blog/wpcontent/uploads/2013/11/iStock_000021442889Small1.jpg

Beberapa hal yang saya ingat dari proses pemberian sayur pada Ayas, yang mungkin bisa membantu kesulitan para Ibu dalam memberikan sayuran pada anaknya adalah sebagai berikut:
1. Jangan menuruti ego, pernah suatu kali saya berambisi agar Ayas menyukai sawi hijau. Akhirnya selama beberapa hari saya menyiapkan menu makanan berbau sawi hijau berturut-turut. Sayangnya strategi ini bukannya sukses membuat Ayas menyuka sawi hijau, yang ada malah dia trauma tak mau makan sama sekali kalau ada penampakan sawi hijau di piringnya.
2. Biarkan anak memilih sayuran yang dia mau, hal ini saya lakukan ketika di rumah orang tua saya. Saat itu ada menu tumis kangkung, wortel kukus dan jagung muda kukus. Tiga makanan tersebut saya letakan di piringnya (tanpa nasi dan makanan lain) dan saya membiarkan Ayas memilih sayuran mana yang dia mau makan. Hasilnya saya jadi tahu, Ayas tidak suka makan jagung muda tapi lahap makang tumis kangkung dan sedikit-sedikit dia memasukan wortel kukus ke mulutnya.
3. Ajak anak dalam setiap prosesnya, kalau anda tidak tinggal di daerah pertanian seperti saya, hal ini bisa anda lakukan lewat mengajak anak memilih sayuran ketika berbelanja di supermarket atau pasar. Setelah itu ajak juga anak ikut serta ketika anda mencuci sampai memasak sayuran. Hal ini saya rasakan sangat efektif, buktinya sekarang setiap kali saya ke tukang sayur, Ayas akan teriak dan memilih sayuran yang dia mau untuk dibeli.
4. Menggunakan bumbu perisa bukan lah dosa, bayangkan anda diminta untuk memakan sayuran kukus tanpa rasa. Pasti anda pun tak akan bisa selahap makan tumis kangkung di Restoran Chinesse Food kan? Kalau anda terlalu ribet untuk membuat kaldu sendiri, saat ini banyak bumbu perisa yang aman untuk bayi. Jadi tak ada salahnya mengenalkan rasa gurih pada anak lewat bumbu perisa yang dituangkan dalam menu sayuran yang anda buat.

Semoga hal di atas bisa membantu para Ibu membuat anaknya menyenangi sayuran ya.