Saya percaya, anak menolak makan adalah problematika klasik bagi seluruh Ibu di belahan dunia mana pun. Banyak Ibu mengira –termasuk saya- bahwa ujian terberat dalam memiliki anak adalah proses kelahiran anak itu sendiri, ternyata setelah itu masih banyak ujian yang harus dilalui seorang Ibu dalam membesarkan anaknya. Mulai dari  mengeluarkan Air Susu Ibu (ASI) yang tidak selalu mudah, Baby Blues sampai yang paling mutakhir adalah drama GTM alias Gerakan Tutup Mulut.

Semula saya berpikir kalau memberi makan anak adalah hal yang akan sangat mudah untuk dilakukan, tinggal masak makanan yang menurut kita enak dan bergizi, lalu ... Hap, mulut kecil itu akan menganga dengan sukarela. Faktanya? Ternyata si bayi punya selera makan yang tak diduga-duga dan ini lah yang lebih menguras energi dan kesabaran dari rasa sakit melahirkan itu sendiri. Saya sendiri termasuk Ibu yang cukup beruntung, anak pertama saya –Ayas- sampai dia saat ini berusia 1 tahun 7 bulan, baru sebulan belakangan ini istiqomah dengan sikap GTM-nya, itu pun dimulai karena dia sakit demam dan batuk berkepanjangan. Meski pun sebelum-sebelumnya Ayas juga punya masanya sendiri susah makan, tapi biasanya dia tak pernah betah berlama-lama tutup mulut dari makanan.

Lain halnya dengan sebulan belakangan ini, entah efek setelah sakit atau memang Ayas simply mau menguji kesabaran Ibunya, setiap kali saya berusaha memberi dia makan mulutnya menolak untuk terbuka. Segala menu dan cara sudah dicoba, mulai dari ngajak makan di meja makan orang dewasa, ganti menu dari nasi ke pasta sampai nyuapin sambil disambi nonton Dave and Ava, semua gagal ... gal ... gal.
Kesabaran saya yang semakin menipis mau tak mau makin terkikis ketika tangan Ayas menampik tangan saya yang baru saja mau menyendok makanan. Sebenarnya bisa saja saya biarkan Ayas makan sendiri dari alasnya, tapi kecamuk pikiran kalau sebulan ini asupan gizinya tidak teratur dan rasa malas membereskan rumah dari sisa-sisa makanan yang diacak-acak Ayas, membuat saya menolak gagasan tersebut. Hasilnya? Saya senewen dan Ayas tetap tidak mau makan.
Apabila diibaratkan psywar, maka jelas pemenang perang ini adalah Ayas. Beberapa hari yang lalu akhirnya saya menyerah, daripada saya bikin dosa terus menerus sama anak sendiri, akhirnya saya biarkan Ayas makan sesukanya. Hasilnya bisa dibilang lumayan, Ayas memilih menu bubur instan rasa pisang dicampur ikan tongkol goreng dan kerupuk yang ia campur-campur sendiri. Entah seperti apa rasanya, tapi setidaknya ada beberapa suap makanan yang masuk ke mulutnya (plus adonan bubur berceceran dimana-mana lol).

Dari situ saya jadi sadar bahwa mungkin saya lupa kalau meskipun Ayasha masih terhitung bayi, tapi dia sudah punya keinginan sendiri. Bahwa selama sebulan ini saya telah bertindak otoriter dengan dalih melakukan hal yang benar untuk Ayasha dan pada akhirnya sikap otoriter ini hanya membuat saya merasa capek dan Ayasha stres sendiri. Bersikap legowo melihat anak ogah makan memang sulit luar biasa untuk dilakukan seorang Ibu, tapi bukan berarti tidak bisa dilakukan sama sekali. Jadi, cobalah sesulit apapun untuk legawa dan sabar menunggu si anak mau membuka mulutnya sedikit demi sedikit. Kalau Ibu menyerah, anak tak lagi punya pegangan. Jangan menyerah.