Moms, beberapa minggu yang lalu saya mendapatkan berita duka dari salah satu teman seperjuangan membesarkan anak. Sedikit cerita tentang latar belakang pertemanan kami.
Kami sama-sama working mom, bukan karena ingin terlihat eksis dan gaya namun karena kami dan suami memiliki tujuan tertentu yang harus ditempuh bersama. Usia anak kami pun hanya berbeda 3 bulan sehingga kami sering sekali bertukar ide tentang tumbuh kembang anak.

Selama ini, dia tidak pernah curhat aneh-aneh, termasuk pertumbuhan anaknya. Paling sakit hanya demam biasa, ujarnya. Namun karena demamnya terlalu sering akhirnya dia resign dan memilih merawat anaknya langsung. Selama ini anaknya dijaga oleh ibu mertua dan nanny.
Satu bulan tidak berjumpa, saya mendapatkan sms darinya isinya kurang lebih memohon doa untuk kesembuhan anaknya yang masih batuk pilek juga demam. Chat pun berlangsung, saya pikir anaknya hanya sakit batuk pilek biasa. Esok hari, dia chat saya dan mengabarkan anaknya dibawa ke Rumah Sakit. Saya cukup kaget, kok batuk pilek sampe harus dirawat di Rumah Sakit. Namun, menyesalnya saya karena belum bisa menjenguk. Sore hari, teman saya chat saya kembali sambil mengirimkan foto anaknya yang penuh dengan selang dan infusan. 
“Mba, Arkan sudah sehat sekarang. Dia gak akan pernah sakit lagi”
Saya lebih lega meskipun cukup ngeri dengan selang yang dipasang pada tubuh kecilnya Arkan. Belum saya balas chatnya, dia chat saya kembali.
“Arkan sudah berpulang mba”
Hancur perasaan saya saat itu, nyaris gak percaya karena kejadiannya begitu cepat. Saya sangat terpukul dengan kabar duka tersebut, melihat Nafeesa mengingatkan saya kepada Arkan. Saya tidak bisa membayangkan anak sekecil itu, usia 15 bulan harus dipasang selang, menahan sakit dan belum sempat kami bahagiakan, ia harus meninggalkan kami. Kedekatan kami, membuat saya merasa menjadi bagian dari Arkan.
Moms, berdasarkan hasil pemeriksaan dokter saat itu, Arkan mengalami pneumonia atau paru-paru basah yang terjadi sudah lama namun tidak disadari oleh orangtuanya sehingga berakibat fatal. Arkan memang sering mengalami sakit batuk dan demam, namun tidak berangsur lama langsung pulih kembali. Sehingga orangtua nya tidak begitu khawatir. Menurut cerita dari teman saya tersebut, mereka bisa menggunakan kipas angina sepanjang hari ketika tidak menggunakan AC, Arkan pun tidur menggunakan kasur tanpa ranjang sesuai anjuran dokter namun terlalu tipis dan tidak dialasi karpet atau penghalang lain dari lantai, kurangnya fentilasi di rumah tersebut turut memperparah kondisi Arkan. Mereka tinggal di rumah susun yang cukup padat penduduk di Jakarta.
Ini menjadi pelajaran berharga untuk saya pribadi. Meskipun kita memang gak boleh sedikit-sedikit anak sakit dibawa ke dokter, anget dikit dikasih obat, namun sebagai orangtua harus jeli dengan kondisi anak. Sebaiknya kita menjadi orangtua yang lebih responsive terhadap perubahaan mood anak, seperti anak menjadi murung, terlihat lemah, tidurnya tidak nyenyak hingga nafsu makan menurun.

Mencrgah lebih baik daripada mengobati ya Moms, jangan sampe kita menyesal belakangan.