Selama ini, tanpa sadar, mungkin Moms menerapkan pola pengasuhan yang present but absent. Contohnya, saat bersama anak, kamu malah sibuk dengan gadget atau laptop. Atau saat sedang bersama dengan anak, namun hati dan pikiran melayang-layang ke tumpukan baju yang harus disetrika di kamar sebelah.

Mungkin Moms memang tidak pernah menyatakan dengan jelas bahwa anak-anak itu adalah "gangguan" bagi kesibukan dan pekerjaan saat ini. Namun dari gesture dan sikap saat bersama dengan anak, cukup terbaca bahwa kamu adalah orang tua yang ada, namun hakikatnya tiada. Fisik kamu berada di samping anak, namun hati dan pikiran melayang ke hal lain di luar anak.
 
source: https://cdn.evoke.ie

Ciri-Ciri Orang Tua Present but Absent

  • Jarang mengatakan "I Love You" pada anak;
  • Ada di sekitar anak namun unapproachable;
  • Selalu sibuk di depan gadget, TV, atau menyambi anak dengan pekerjaan lain; 
  • Minim memberi physical touch kepada anak; dan
  • Mengalami stress berkepanjangan.
source: https://d2pu2bk1b66iw6.cloudfront.net

Jika minimal satu dari lima ciri tersebut ada pada diri Moms, let's change! Karena jika dibiarkan, present but absent parenting ini lama-lama akan melemahkan self-worth anak. Pasti kita tidak mau dong, di masa depannya kelak anak-anak akan tumbuh dengan harga diri yang rendah, have no boundaries, sulit menjalin hubungan yang sehat dan memiliki persepsi diri yang negatif?

Karena rata-rata, orang dewasa dengan ciri yang disebutkan di atas, tumbuh dari pengasuhan orang tua yang present but absent. Padahal mereka tidak pernah mengalami trauma, tragedi, atau pengabaian apapun. "Hanya" akibat orang tua yang ada dan tiada itulah, mereka menjadi seperti itu.

Kemungkinan lain jika membiarkan anak-anak kita tumbuh dalam pengasuhan present but absent, adalah menjadi over-confidence, bahkan cenderung agresif, semata-mata hanya untuk "menutupi" luka yang ada di hati mereka. 

Percayalah Moms, bahwa anak-anak itu sangat sensitif. Meski kamu tidak pernah mengatakannya, mereka pasti bisa merasakan bahwa kita merasa "terganggu" dengan "hadirnya" mereka di sela-sela kesibukan Moms.
 

baca juga

Cara Mengatasinya

Lalu bagaimana dong, supaya Moms tidak terjebak dalam pengasuhan berbahaya ini? Masa sih kita dilarang punya waktu untuk diri sendiri? Bisa enggak waras dong ya pastinya?

Memang sih, satu-satunya hal yang bisa Moms lakukan adalah sadar penuh dan hadir utuh saat bersama dengan anak. Namun bukan berarti dilarang sama sekali untuk me-time, aktualisasi diri dan sejenisnya. Kamu tetap boleh kok, untuk melakukan hal-hal yang kamu sukai untuk menjaga kewarasan, namun tetap enggak boleh kebablasan. Balance is the key.

Mungkin cara ini bisa membantu Moms agar tetap waras namun tidak terjebak menjadi orang tua yang present but absent:

  • Tetapkan gadget time sehingga saat sudah bukan waktunya memegang gadget lagi, bersamailah anak sepenuh hati;
  • Biasakan memberi perhatian pada anak dan dengarkan mereka dengan sungguh-sungguh. Ingat, to listen tidak sama dengan to hear;
  • Jangan mudah memberi hukuman pada anak, selidiki dulu latar belakang anak melakukan perilaku negatif;
  • Jadilah orang tua yang mudah meminta sekaligus memberi maaf;
  • Sering-seringlah melakukan physical touch dan eye contact pada anak-anak kita karena hal itu sangat baik untuk perkembangan mereka.
source: https://thumbs-prod.si-cdn.com

Yang harus selalu Moms ingat, bahwa tidak perlu cara yang sulit dan mahal untuk membahagiakan anak-anak. Mereka hanya perlu tahu bahwa kita peduli dan selalu ada untuk mereka.