Kehamilan pertama dan terkategori risiko tinggi (hamil di usia 30 tahun dan proses yang berbentu teknologi) membuat dokter menyarankan saya untuk bedrest setidaknya trimester pertama.  Menurut dokter, fase tiga bulan pertama merupakan masa yang rawan dan harus dijaga maksimal dari kemungkinan terburuk.  Bedrest ....saya pun ingin seperti itu, tapi kehamilan membuat saya ingin segera menyelesaikan studi dengan melakukan penelitian sesegera mungkin.  Dengan menyelesaikan studi cepat berarti semakin cepat pula bisa fokus mengurus anak kelak.

Semangat itulah yang membuat saya memutuskan tidak menjalani bedrest.  Saya mulai melakukan penelitian dengan mencari sampel yang menjadi bahan utama penelitian saya.  Ditemani suami dan orang tua menuju salah satu kabupaten di Sulawesi Selatan mencari cangkang Kerang Hijau (yang akan dibuat menjadi kitosan sebagai koagulan penjernih air).  Selanjutnya persiapan bahan baku dan melakukan penelitian di laboratorium.  Selama kurang lebih tiga bulan (lima hari setiap pekan pagi hingga sore hari) mengerjakan penelitian di laboratorium yang letaknya di lantai 3 yang waku itu aksesnya menggunakan tangga.

Setelah sampel penelitian selesai, saya pun memutuskan kembali ke Bandung untuk ujian kemajuan penelitian.  Tidak hanya itu, setelah ujian selesai, perjalanan pun dilanjutkan ke Kota Solo mengikuti konferensi untuk mempublikasikan hasil penelitian saya. Seolah tiada lelah, justru kehamilan membuat bersemangat melakukan suatu hal dengan bahagia.



Kehamilan ini membuat saya senang melakukan perjalanan.  Baik itu melalui darat maupun udara yang sesekali ditemani suami.  Kehamilan memberi energi positif yang mungkin karena rasa syukur diberi kesempatan merasakan hamil setelah penantian panjang.  Suami pun sangat mendukung berbagai aktivitas yang saya lakukan selama hamil selama itu tidak membahayakan kehamilan.



Berharap di kehamilan ini, anak di kandungan ikut merasakan kebahagiaan sekaligus perjuangan saya mengandungnya sambil bersekolah dan tinggal jauh dari keluarga seorang diri.