Fidyah adalah cara menebus puasa dengan memberi makan orang miskin sebagai ganti puasanya. Hal ini berdasarkan kepada firman Allah Subhanahu Wa Ta'ala yang berbunyi:

“Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu): memberi makan seorang miskin.” (QS. Al-Baqarah: 184)


Membayar fidyah diperuntukan bagi orang-orang memiliki udzur hingga harus meninggalkan puasa Ramadhan seperti musafir, ibu hamil dan menyusui sebagaimana sabda Rasulullah yang berarti :

"Sesungguhnya Allah menggugurkan kewajiban bagi musafir puasa dan setengah shalat, demikian pula bagi wanita hamil dan menyusui." (HR. Turmudzi)

Membayar Fidyah bagi Ibu Hamil

Anjuran membayar fidyah bagi ibu hamil, muncul pada hadis yang berarti :

"Wanita hamil dan menyusui, jika takut terhadap anak-anaknya, maka mereka berbuka dan memberi makan seorang miskin."(HR. Abu Dawud).

Dari dalil di atas, para ulama sepakat bahwa ibu hamil dan menyusui boleh tidak berpuasa jika dikhawatirkan membahayakan diri dan bayi yang dikandung, maupun anak yang sedang disusui.
Namun, belum ada kesepakatan ulama mengenai cara membayar fidyah atau mengganti puasanya.

Ulama Hanafiyah berpendapat fidyah yang harus dikeluarkan sebesar 2 mud atau setara 1/2 sha’ gandum, sedangkan kalau beras beratnya 1,5 kg. Fidyah bisa dibayarkan berupa beras, nasi, gandum, atau sejenis makanan pokok lainya. Untuk takaran dalam sehari terdapat 1 fidyah untuk 1 orang miskin bergantung pada jumlah hari puasa yang ditinggalkan.

Namun, sekarang beberapa orang lebih memilih membayar fidyah dalam bentuk uang. Hal ini sebenarnya masih menuai perbedaan pendapat antar ulama. Tapi menurut ulama Hanafiyah, fidyah boleh dibayarkan dalam bentuk uang tapi nominalnya harus sesuai dengan takaran makanan pokok.

Mengqodho' Puasa Bagi Ibu Hamil

Walaupun ada riwayat dari sebagian ulama salaf yang memerintahkan wanita hamil dan menyusui (jika tidak puasa) cukup fidyah (memberi makan) dan tidak perlu mengqodho’, namun yang dimaksudkan di sini adalah untuk ibu hamil yang tidak mampu berpuasa selamanya.

Sebaliknya, para ulama masih berpendapat siapa saja tetap wajib mengqodho' puasa di hari lain karena tidak ada dalam syari’at yang menggugurkan qadha bagi orang yang mampu mengerjakannya sebagaimana firman Allah dalam Surat Al Baqarah -185 bagian terakhir:

Barangsiapa yang dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan, maka itulah yang lebih baik baginya. Dan berpuasa lebih baik bagimu jika kamu mengetahui. (Al Baqarah -185)

Allah Ta’ala telah menjadikan fidyah sebagai pemermudah dalam penembusan puasa namun ketika manusia punya pilihan untuk menunaikan fidyah dan berpuasa, maka diperintahkan untuk berpuasa saja. Karena mengganti puasa dihari yang lain lebih baik bagi Moms yang hamil dan masih sanggup menjalankan puasa dikemudian hari.